Jumat, 29 Juni 2012

PENDEKATAN BEHAVIORAL dan KOGNITIF SOSIAL



PENDEKATAN BEHAVIORAL dan KOGNITIF SOSIAL

I.Pendekatan behavioral untuk pembelajaran           
Pendekatan behavioral menekankan arti penting dari bagaimana anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku di dalam pendekatan behavioral di bagi menjadi 2 pengkondisian yaitu:
  1. Pengkondisian klasik.
           Tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan/mengasosiasikan
               Stimuli.  
          Pengkondisian klasik dapat berupa pengalaman negatif dan positif dalam diri anak di kelas,  misalnya : anak gagal dalam ujian dan di tegur, dan ini menghasilkan kegelisahan, setelah itu anak mengasosiasikan ujian dengan kecemasan, sehingga menjadi CS untuk kecemasan.
Contoh pengkondisian klasik dlm kritik guru terhadap murid dan ujian.

Didalam pengkondisian klasik terdapat 3 istilah yaitu:
1.Generalisasi, diskriminasi dan pelenyapan
Generalisasi dalam pengkondisian klasik adalah tendensi dari stimulus baru yang sama dengan conditioned stimulus yang asli untuk menghasilkan respon yang sama, misalnya: murid di marahi karena ujian biologinya buruk, saat murid itu mulai bersiap untuk ujian kimia, dia menjadi gugup karena dua mata pelajaran itu saling berkaitan. Jadi menggeneralisasikan satu ujian mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.
2.Diskriminasi
Diskriminiasi dalam pengkondisian klasik terjadi ketika organisme merespon stimuli tertentu tapi tidak merespon stimuli lainnya. Misalnya: murid yang mengikuti ujian di kelas, dia begitu gugup saat menempuh ujian pelajaran bahasa inggris atau sejarah karena dua mata pelajaran itu jauh berbeda  dengan mata pelajaran kimia dan biologi.
3.Pelenyapan
Pelenyapan dalam pengkondisian klasik yaitu pelemahan conditioned response (CR) karena tidak adanya unconditioned stimulus (US). Misalnya : murid yang gugup mengikuti ujian akan mulai menempuh tes dengan lebih baik dan kecemasannya mereda.
Disensitisasi sistematis
Disensitisasi sistematis (systematic desensitization) adalah sebuah metode yang di dasarkan pada pengkondisian klasik yang dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dengan cara membuat individu mengasosiasikan relaksasi dengan visualisasi situasi yang menimbulkan kecemasan. Misalkan: murid di kelas yang sangat gugup saat di minta berbicara di depan kelas.
Tujuan dari disensitisasi sistematis adalah membuat murid itu mengasosiasikan bicara di depan publik dengan relaksasi bukan kecemasan. Dengan menggunakan visualisasi berkali-kali, murid itu bisa melatih disensitiasi sistematis selama dua minggu sebelum bicara, kemudian satu minggu sebelum bicara, lalu empat hari sebelum bicara, dua hari sebelum bicara, pagi hari sebelum maju bicara, saat masuk ke ruang tempat dia akan bicara di depan publik saat bejalan ke podium dan saat bicara
Mengevaluasi pengkondisian klasik.
Pengkondisian klasik membantu kita mampu memahami beberapa aspek pembelajaran dengan lebih baik. Cara ini membantu menjelaskan bagaimana stimulasi netral menjadi diasosiasikan dengan respon yang tak di pelajari dan suka rela. Ini sangat membantu untuk memahami kecemasan dan ketakutan murid, namun cara ini tidak efektif untuk menjelaskan perilaku sukarela, seperti mengapa murid belajar keras untuk satu mata pelajaran atau lebih, menyukai sejarah ketimbang geografi, untuk area ini pengkondisian operan akan lebih relevan.
       2.Pengkondisian Operan
 Pengkondisian operan (juga dinamakan pengkondisian instrumental) adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan di ulangi. Arsitek utama dari pengkondisian operan adalah B.F.Skinner, yang pandangannya di dasarkan pada pandangan E.L. Thorndike.
Hukum efek thorndike
Thorndike menempatakan kucing yang lapar pada sebuah kotak dan meletakkan ikan di luar kotak. Untuk  bisa keluar dari kotak, kucing itu harus mengetahui cara membuka palang di dalam kotak tersebut. Pertama-tama kucing itu melakukan beberapa respon yang tidak efektif dia mencakar atau mengigit palang. Akhirnya kucing itu secara tidak sengaja menginjak pijakan yang membuka palang pintu, saat kucing di kembalikan ke kotak,dia melakukan aktifitas acak sampai dia mengijak pijakan itu sekali lagi. Pada percobaan berikunya kucing itu semakin sedikit melakukan gerakan acak sampai dia akhirnya bisa langsung menginjak pijakan itu untuk membuka pintu

Hukum efek Thorndike menyatakan
Bahwa perilaku yang di ikuti dengan hasil positif akan di perkuat dan perilaku yang di ikuti hasil negatif akan di perlemah.
Penguatan dan hukuman.
 Penguatan (imbalan)(reintforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akn terjadi
Hukuman (punishment)adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Misalnya: anda mungkin berkata pada murid anda. “ selamat, saya merasa senang setelah membaca cerita yang kalian tulis” jika murid bekerja lebih keras dan menulis lebih baik lagi untuk cerita selanjutnya, komentar positif anda akan merupakan penguat atau memberi imbalan pada perilaku menulis murid. Jika anda merengut pada murid yang bicara di kelas dan kemudian perilaku bicara itu menurun, maka muka anda merengut itu merupakan hukuman bagi tindakan si murid.
Penguatan berarti memperkuat
Penguatan positif, frekuensi respon meningkat karena di ikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding)
Penguatan negatif, frekuensi respon meningkat karena di ikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan) misalnya: ayah mengomeli putranya agar mau mengerjakan PR. Dia terus mengomel, akhirnya anak itu lelah mendengarkan omelan dan PR-nya.
Cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan negatif adalah :
1.      Dalam penguatan positif ada suatu yang di tambahkan atau di peroleh.
2.      Dalam penguatan negatif ada suatu yang di kurangi atau di hilangkan.

Generalisasi dalam penkondisian operan berarti memberikan respon yang sama terhadap stimulasi yang sama misalnya jika pujian guru membuat murid belajar lebih keras di kelas, apakah pujian serupa akan juga membuat bekerja lebih keras untuk tugas di luar kelas seperti pekerjaan rumah.
Diskriminasi dalam pengkondisian operan berarti pembedaan di antara stimuli dan kejadian lingkungan. Misalnya seorang murid tahu bahwa di meja guru yang bertuliskan “matematika”  adalah tempat guru menyimpan tugas matematika hari ini, sedang yang tertulis “inggris” adalah tempat menyimpan tugas bahasa inggris hari ini.
Dalam pengkondisian operan, pelenyapan (extinction) terjadi ketika respons penguat sebelumnya tidak lagi di perkuat dan responnya menurun.misalnya, dalam beberapa kasus guru kurang memberi perhatian yang kurang bijaksana, sehingga malah memperkuat tindakan disruptif, seperti ketika murid mencubit murid lain lalu guru kemudian langsung bicara dengan pelakunya.
II. Analisis perilaku terapan dalam pendidikan
Apa itu analisis perilaku terapan ??
Analisis perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian  operan untuk mengubah perilaku manusia.
Ada 3 penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan:
1. meningkatkan perilaku yang diharapkan
 Lima strategi pengkondisian operan dapat di pakai untuk meningakatkan perilaku anak yang di harapkan:
a.Memilih jadwal penguatan terbaik.
b.Menjadikan penguat kontingen dan tepat waktu.
c.Memilih penguat yang efektif.
d.Menggunakan perjanjian.
e.Menggunakan penguatan negatif secara efektif.
2. menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukan (shaping)
3.Mengurangi perilaku yang tidak di harapkan
 Analisis perilaku terapan Paul Alberto dan anne troutman(1999), merekomendasikan bahwa  jika guru mengurangi perilaku yang tidak di harapkan, mereka harus  menggunakan 4 langkah berikut ini secara berurutan:
a.Menggunakan penguatan deferensial
b.Menghentikan penguatan pelenyapan
c.Menghilangkan stimuli yang di inginkan
d.Memberikan stimuli yang tidak di sukai(hukuman)
III. Pendekatan kognitif sosial untuk pembelajaran
            Teori kognitif Sosial Bandura.
Teori kognitif sosial (social cognitive teory) menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif  dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif mungkin berupa ekspektasi murid untuk meraih keberhasilan; faktor sosial mungkin mencakup pengamatan murid terhadap perilaku orang tuanya.
Albert Bandura (1986,1997,2000,2001) adalah salah satu arsistek utama teori kognitif sosial. Dia mengatakan bahwa ketika murid belajar, mereka dapat mempersentasikan atau mentransformasi pengalaman mereka secara kognitif.
Bandura mengembangkan model determinisme resiprokal yang terdiri dari tiga faktor  utama : 1.perilaku,
2.person/kognitif, dan
3. lingkungan.

P
        perilaku


                             P/K                                                                    L
                    faktor person                                            lingkungan

                     dan kognitif


                                                                                               
Gambar. Model determinisme resiprokal dalam pembelajaran dari Bandura.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar